Niatan Yang Terbelokkan
Dears All,....Definisi orang atas sesuatu akan berubah seiring dengan perkembangan persepsi, paradigma dan daya nalarnya (PPD). Anak lelaki kecil biasanya akan bercita-cita menjadi tentara lantaran kegagahan seragam dan senjata yang disandangnya. Seorang gadis remaja begitu mendambakan kekasih yang selalu tampil keren habis. Tidak perlu difikirkan, seandainya pun kekasihnya tampil dengan aksesories pinjaman. Yah,.... perubahan PPD seseorang sangat bergantung kepada kualitas aktifitas pembelajarannya.
Sebagai pegawai BUMN terbaik, di awal-awal masa kerja, saya mencoba mendefinisikan apa sih sebuah kesuksesan itu. Kesuksesan bagi saya saat itu, adalah sukses karier, sukses materi dan sukses keluarga. Ukurannya adalah hasil, bukan proses. Kalau sudah demikian, maka sudah pasti akan banyak bertemukan tekanan-tekanan yang sejatinya tidak perlu muncul.
Bagi saya, definisi sukses materi memiliki cerita tersendiri. Saat itu, di awal tahun 2002, saya memiliki sedikit tabungan dan sebuah mobil yang nilainya kira-kira cukup untuk DP sebuah real estate di Tamansari Bukit Mutiara Balikpapan (TBM). Harga rumah tersebut saat itu adalah Rp.193.000.000,-. Sebuah harga yang tidak murah. Sementara DP yang harus saya bayarkan adalah 30% dari nilai harga rumah yang hendak saya beli.
PPD saya saat itu juga relatif sederhana dan masih bergerak di level permukaan. Saya membayangkan, ...... seandainya saya memiliki rumah dan tinggal di TBM, kemudian rumah lama dipertukarkan dengan sebuah mobil baru,.... sepertinya cukup untuk menunjukkan kelasnya sebagai orang yang sukses. Status sosial akan berubah, dari seorang warga kompleks perumahan biasa bertemankan mobil tua menjadi warga menengah atas dengan rumah dan kompleks perumahan yang cukup terpandang sekaligus berkendara sebuah mobil baru. Waah jaaan pooolll manteppeee, ....
Setelah menunggu hampir 7 bulan setelah DP terlunasi, proses pengerjaan rumah baru pun selesai dan segera dilakukan tambahan renovasi seperlunya. Tidak lama setelah itu, tepatnya di awal Mei 2003, kami sekeluarga pun pindah rumah, boyongan. Kami sekeluarga sangat happy bahkan setengah bersorak dalam hati, 'Horee saya naik kelaaaasssss,.....'. Maklum, level PPD kami saat itu ya baru segitu.
Karena memerlukan biaya tambahan untuk melakukan renovasi, ada rencana awal untuk menjual rumah lama yang terpaksa harus ditunda. Dilakukanlah sebuah opsi baru, rumah lama dikontrakkan sehingga diperoleh dana segar baru yang secara kebetulan juga mencukupi dan relatif lebih cepat, daripada harus dengan menjualnya. Oh iya,... kalau soal mobil tua, Starlet'93, sudah terjual sebelum jatuh tempo pelunasan DP.
Tinggal di real estate jelaslah berbeda dengan perumahan biasa. Dari fisiknya saja, entah itu bangunan rumah, fasilitas umum, landscape ataupun kelengkapan sarana dan prasarana, akan langsung terasa beda bahkan hawanya saja sudah dirasakan semenjak dari mulut gerbang kompleks. Suasana sejuk penuh bunga, taman nan indah, pohon-pohon rindang, jalanan hotmix halus berkelok, kolam renang berjarak sejengkal dan sekuriti yang ketat adalah hal-hal yang sudah lazim dijumpai.
Sebulan, dua bulan hingga empat bulan, suasana happy masih hangat bisa dirasakan. Anak-anak dan isteri kami pun demikian. Anak pertama kami, Dykall, bahkan menjadi bisa bersepeda langsung pada bulan-bulan pertama. Yaa maklum, di tempat kami yang lama kontur jalannya sangat miring dan tidak halus berhotmix, sehingga sangat berbahaya bagi para biker pemula. Kalaupun sempat bersepeda, paling-paling juga dilakukan di dalam rumah.
Dasar saya yang sok pembelajar, belum genap setengah tahun, saya pun berkenalan dengan Robert Kiyosaki melalui bukunya Rich Dad & Poor Dad dan seri-seri selanjutnya. Saya menjadi mengenal apa itu asset dan apa itu liabilitas. Belakangan referensi saya semakin bertambah, ada Safir Senduk, David Owen, David Bach, Akram Ridha, Dicky Nugraha, Wallace D Wattles dan terakhir Danah Zohar & Ian Marshal. Outputnya, saya pun diajak mengelana lebih dalam, .... bahwa ternyata pengelolaan sebuah keuangan keluarga tidaklah lepas dari pembentukan karakter diri, pengenalan akan Tuhan dan visi-misi kehidupan yang telah didesainNYA.
Pelan tapi pasti, PPD saya atas arti kesuksesan materi pun sedikit berubah. Dulu berorientasi kepada hasil, kini kualitas proses. Status sosial yang dulu diburu dan dianggap sebagai hal yang membanggakan, kini pun berubah. Kini,... saya cenderung terhibur dengan tingkat optimalisasi diri yang membaik, walaupun masih sering dengan akselerasi yang terbilang kecil.
Belum terlampau berhasil memang, tapi saya merasakan ada hal-hal lain yang bisa dinikmati lebih dalam. Kegemaran utak-atik investasi kecil semakin sering dilakukan, bukan karena semata-mata berharap keuntungan materi. Pola konsumsi dan pembelanjaan yang semakin selektif, bukan juga karena kikir. Pembelajaran keuangan dan investasi kepada isteri dan anak-anak pun demikian. Sementara, kebersahajaan seolah menjadi tantangan tersendiri, dan bukan dengan mengorbankan pemenuhan kebutuhan kehidupan kiwari. Pola hidup sehat apalagi, semakin ringan dilakukan, karena ternyata, sehat itu murah dan sehat itu mudah.
Kesemuanya diupayakan berjalan alami dan optimal. Resource diri dan keluarga termanaje secara optimal. Sementara amanah Sang Pemberi atas rizki yang kami terima pun, tertunaikan dengan semakin baik. Tidak salah sepertinya, ada kalanya sebuah niatan memang harus berbelok. Berbelok ke arah yang lebih baik tentunya. Bukankah sebuah niatan adalah output dari PPD yang seharusnya selalu diuji,.... dan secara otomatis akan terbuka kemungkinan untuk juga selalu berubah?
Salam Menguji Niat
Hendra



3 Comments:
testing aja nih
Assalaamu'alaikum...
Salut buat mas Hendra, yg semakin kreatif. ini mungkin salah satu hikmah yg dpt dipetik dapat tugas di pelosok & membujang lagi..he..he.. dan demi masa, mk kang cuko ini sudah memanfaatkannya dng ilmu yg bermanfaat..subhanallah.
dari mantan tetangga yg sering ngerpoti
TR
ass wr wb
Mantep, tulisannya sudah penuh dengan kiasan-kiasan yang pas dengan pemilihan kata-kata yang sip.semoga mas hendra tambah kreatif,semoga.
wassalam
dari cah solo pecas ndahe
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home