Wednesday, March 22, 2006

Bukan Mereka Menolak,... Tapi Mereka Belum Tahu

Pembahasan RUU APP yang hingga kini belum juga usai, sepertinya merupakan pembahasan yang paling ramai jika kita bandingkan dengan pembahasan-pembahasan RUU lainnya. Sebelumnya, kita sudah sempat mengikuti pembahasan RUU Pendidikan, RUU Pemilu, RUU Pemerintahan Daerah, RUU Otonomi Daerah, RUU Perimbangan Keuangan Daerah, RUU Kesehatan dan lain-lainnya. Namun tidaklah seramai seperti pada pembahasan RUU APP yang sekarang ini.

Kita tahu persis, bahwa RUU-RUU yang lain itu bukanlah tidak lebih penting. Bahkan, seperti RUU PemDa dan RUU OtDa, adalah hal yang sangat penting karena akan menentukan bagi kemajuan daerah di mana selama ini begitu banyak dirugikan oleh perilaku pemerintah pusat. Demikian juga dengan RUU Pendidikan & RUU Kesehatan. Jadi apa faktor penyebab dari kekhususan ramainya pembahasan RUU APP kali ini?

Tidak seperti RUU lainnya yang sekedar memperjelas sebuah aturan main, inisiatif munculnya RUU APP juga berangkat dari keprihatinan mendalam atas sebuah budaya masyarakat yang sangat buruk. Nah, dengan RUU APP ini, kita berharap bisa mengubah hal tersebut. Di sisi lain, kita sangat paham, bahwa urusan mengubah sebuah budaya bukanlah hal yang mudah, karena ia adalah jelmaan sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung sangat lama.

Adanya kepentingan lain yang bersifat ekonomis dan juga politis, pada akhirnya semakin menambah ramai. Pornografi dan pornoaksi, suka tidak suka, adalah sudah terindustrialisasikan. Kedua hal ini, bahkan sudah menjadi komoditi yang laris manis. Hampir bisa dipastikan, siapapun pengusaha yang terjun di dalamnya, maka pasti untung besar. Dari sisi politis, ada anggapan bahwa RUU APP adalah sebuah langkah awal pemberlakuan hokum islam. Maka makin sempurnalah gelombang penolakan, yang sudah barang tentu disuarakan oleh mereka-mereka yang memiliki kepentingan-kepentingan di atas.

Dukungan atas penolakan RUU APP juga tidak kalah ramai. Beragam asal muasal mereka, ada yang sekedar ikut-ikutan teman, ada yang dari kelompok asal beda, ada juga dari para pelaku industri terkait dan termasuk di dalamnya para politisi dan tokoh yang sekedar ingin numpang tenar.

Sedikit kita flash back pada jaman Baginda Rasulullah SAW, di mana penolakan atas dakwah beliau sudah sedemikian kerasnya. Bukan sekedar demo penolakan dan perang opini, tapi bahkan sudah dalam bentuk kekerasan, terror dan ancaman pembunuhan, termasuk kepada beliau sendiri. Beragam latar belakang penolakan para kaum kafir dan yahudi saat itu. Ada yang bersifat politis dan ada juga yang menyangkut masalah keyakinan atau budaya.

Penolakan para kaum kafir dan yahudi atas muatan dakwah Rasululullah, hampir tidak pernah ada. Dengan kemampuan intelektual, kesabaran, niatan yang benar dan tentu juga berkat bimbingan Alloh SWT, setiap bentuk keraguan dan rasa ingin tahu masyarakat selalu saja dapat di selesaikan dengan sempurna. Tidak sekedar mengerti dan paham, tapi tidak sedikit di antara mereka yang bahkan langsung bersyahadat. Ini berarti, baik secara intelektual, emosional dan spiritual mereka terpuaskan maksimal hingga menuntunnya menuju pintu hidayah.

Hikmah atas Penolakan RUU APP

Dari sekian banyak latar belakang penyebab penolakan atas RUU APP, yang paling relevan untuk dikedepankan adalah karena mereka belum tahu. Dulu, sesampainya perjalanan hijrah Rasulullah ke Thaif, perlawanan kaum kafir dan yahudi terus muncul dengan sangat hebatnya. Pada saat itu, muncullah Malaikat Jibril dengan menawarkan bantuan bagi Rasulullah dan sahabat untuk menghancurkan para musuh Alloh yang sudah kelewatan itu.

Rasulullah tidak mengiyakan uluran bantuan Malaikat Jibril tersebut, akan tetapi malah menolaknya. Beliau menyampaikan bahwa para musuh Alloh menjadi seperti itu lantaran tidak mengerti. Mereka belum tahu bahwa islam adalah solusi. Mereka juga tidak mengerti bahwa islam is the best. Mereka melawan karena belum sampainya dakwah Rasulullah kepada mereka. Akhirnya, Rasulullah bahkan mendo’akan kalaulah bukan mereka yang bisa ‘mengerti’, semoga anak cucu dan keturunan mereka. Mudah-mudahan, tidak saja mengerti, tetapi juga mampu menjadi pelanjut atas semua perjuangan dakwah beliau.

Sebuah pernyataan ‘karena mereka belum tahu’ yang dihasilkan dari proses yang jujur, objektif dan ikhlas karena Alloh, pastilah akan memunculkan banyak hal-hal positif. Dia adalah bahan introspeksi dan evaluasi atas kinerja dakwah yang sangat efektif. Pernyataan itu juga memposisikan para objek dakwah pada posisi yang tepat, mereka bukanlah musuh akan tetapi sebagai saudara kita yang sakit yang patut didekati, diobati dan dido’akan secara lebih intens dan lebih banyak. Sisi positif lainnya adalah, bahwa kita terjauh dari jebakan keterburu-buruan dalam berdakwah. Bukankah Alloh selalu mengajarkan kepada kita bahwa orientasi proses yang optimal adalah jauh lebih baik dan lebih benar tinimbang orientasi hasil semata. Hasil adalah sekedar alat ukur bantu.

Dalam konteks polemik RUU APP kali ini, di samping kita tetap terus memperjuangkan terundangkannya RUU tersebut, ada baiknya juga kita mulai mengutak-atik, apa dan bagaimana cara terbaik yang bisa kita lakukan sehingga mereka menjadi tahu, menjadi lebih tahu dan selanjutnya bisa seiring sejalan dengan barisan kita?

Tidak buruk seandainya kita mau mengevaluasi kembali efektifitas dan produktifitas dakwah yang sudah kita lakukan. Bisa jadi kita belum optimal karena masih terlalu sering berangkat dari bahasa kita. Bisa jadi kita terlihat oleh mereka sebagai kelompoki eksklusif yang kurang membaur dan terlihat selalu gelisah bersama mereka. Atau kita termasuk kelompok perfeksionis, sehingga kurang enjoy dengan perubahan yang lamban dari para objek dakwah. Kesemuanya ini adalah ladang-ladang amalan baru yang sangat menjanjikan.

Mendakwahkan Islam adalah laksana berjualan sebuah produk dengan kualitas terbaik. Pasti cocok, pasti menguntungkan, pasti memudahkan, pasti dibutuhkan dan pasti awet lagi. Namun, kualitas sebuah produk terbaik tidak lalu menjamin bahwa produk tersebut pasti laku di pasaran. Masih ada faktor-faktor lain yang akan mempengaruhinya yaitu seberapa tahu dan yakinnya para calon pembeli atas fungsi dan kualitas produk tersebut, kemudian kualitas marketing & sales, jaminan after sales, harga yang ditawarkan dan juga yang tidak ketinggalan adalah suasana hati para calon pembeli.

Dengan kualitas proses dakwah yang optimal, memang bisa jadi tidak akan segera dapat kita lihat sebuah hasil yang spektakular. Tapi bukankah Rasulullah pun mencontohkan secara demikian?

Mereka, para penolak RUU APP itu adalah juga saudara-saudara kita. Kita patut bersyukur, karena mereka, berarti juga peluang dakwah kita semakin banyak. Semoga bukan memunculkan pesimisme buat kita, apalagi putus asa,... akan tetapi sebaliknya, semoga kita semakin terlatih dan semakin sempurna dalam berdakwah yang pada akhirnya akan semakin meninggikan kualitas kita sebagai insan pejuang yang sejati. Wallohu A’lam ##

3 Comments:

At 9:37 AM, Anonymous ARS said...

Keren juga analisisnya ;)

 
At 10:12 PM, Anonymous Doan said...

Great posting! Opini yang cukup bijak dan santun :)

 
At 6:42 AM, Blogger hendra supha said...

Mas ARS & Kang Doan,...
Matur Nuwun atas supportnya, maaf kalau masih byk kurang. Semoga kita tetap semangat & selalu istiqomah. Amien.

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home