Tuesday, March 07, 2006

The Experience Management

Siapa pun kita, pastilah memiliki pengalaman. Bisa jadi dalam jumlah yang tidak terhitung lagi. Pengalaman adalah suatu peristiwa atau kejadian yang sudah dilewati seseorang dalam perjalanan kehidupannya, terlepas dari sengaja ataupun tidak, terlepas dari baik ataupun buruk dan juga terlepas dari menyenangkan ataupun sebaliknya. Semakin panjang umur seseorang, mestinya, akan semakin banyak pengalaman yang dimiliki. Semakin aktif seseorang, semakin banyak pula kemungkinan pengalaman yang akan diperolehnya.

Pengalaman adalah modal yang sungguh berarti bagi si pemiliknya dan juga terbuka untuk orang lain. Bagi si pemilik, sudah barang tentu akan menguatkan secara psikis manakala ybs menemui kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang sama atau mirip di kemudian hari. Sebagai contoh, begitu banyak para lulusan SMA yg akan begitu antusias mengikuti kegiatan try out UMPTN. Mereka, tidak saja berharap tambahan pengalaman dari uji kemampuan mengerjakan soal-soal. Lebih jauh, adalah keberhasilan di dalam try out tsb juga akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri (PD) bagi ybs, pada saat mereka tiba di hari-H UMPTN.

Bagi orang lain pun demikian. Gejala nyata yang bisa kita rasakan adalah begitu banyak orang mengidolakan seseorang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Tokoh Idola, adalah penyimpulan instan dari ketertarikan seseorang atas karakter si tokoh yang sudah pasti adalah bentukan dari pengalaman-pengalaman yang dimilikinya. Dari tokoh idola itulah, seseorang akan merasa lebih mudah mengekspresikan dirinya menuju karakter yang diinginkannya. Kita juga merasakan, meniru adalah lebih mudah tinimbang mencipta sendiri.

Pertimbangan seseorang memilih tokoh idola, sangat bergantung kepada persepsi, paradigma dan daya nalar ybs. Bisa juga dipengaruhi oleh kebutuhan akan aspek-aspek tertentu yang temporer. Misalnya seseorang sedang belajar melukis maka ia akan mengidolakan P. Tino Sidin, para manajer akan mengidolakan Jack Welch, para pecinta anak akan mengidolakan Kak. Seto atau lain-lainnya. Tidak ada yang salah bagi siapa pun untuk menentukan siapapun tokoh idolanya. Paling-paling juga waktu yang akan menguji, apakah sebuah pilihan adalah hal yang terbaik ataukah sudah harus diperhitungkan kembali.

Begitu pentingnya arti sebuah pengalaman, sepertinya ada keharusan bagi kita untuk mengelola pengalaman-pengalaman yang kita miliki secara benar dan cermat. Orang kebanyakan bilang, ' Pengalaman adalah Guru Terbaik'. Ungkapan bijak juga sering kita dengar 'Bangsa besar adalah Bangsa yang Tahu akan Sejarahnya'. Ungkapan bijak lain, 'Keledai saja tidak akan jatuh dua kali di lubang yang sama'. Tuhan Alloh SWT secara berulang menyampaikan dalam Al Qur'an, ..... berjalanlah kalian di muka bumi, dan lihatlah akibat2 perbuatan para pendahulumu supaya kalian berfikir,..... Dan kalau kita cermati, hampir sebagian besar isi dari sebuah kitab suci adalah disampaikan dalam bentuk cerita kehidupan (baca : pengalaman) yang diwakili oleh kaum-kaum tertentu pada jaman dahulu. Nah, sebagai modal yang berharga dan berpotensi tinggi dalam menimbulkan dampak bagi diri sendiri dan orang lain, kiranya tidaklah berlebihan bahwa pengalaman haruslah dimanage dengan baik.

Sebagaimana umumnya sebuah pengelolaan atau manajemen, maka the Experience Management (tEM) pun mengenal adanya Planning, Organizing, Actuating & Controlling yang bagi kita sudah sangat familiar.

PLANNING
Di dalam memulai perencanaan sebuah pengalaman, berarti kita harus berangkat dari visi-misi, target dan strategi yang sudah solid. Kita tidak ingin, akan muncul lagi pengalaman-pengalaman buruk atau bad experience. Kita siapkan program jabaran yg bermakna, realistis dan menantang. Namun, kita juga harus bersiap diri dengan segala kemungkinan yang akan muncul sebagai imbas dari program-program yang akan kita lakukan. Dengan begini, kita tidak akan terkagetkan, seandainya harapan terbaik kita tidak terpenuhi dan bahkan muncul kejutan-kejutan lain.

Karena pengalaman kita bisa berimbas kepada orang lain, oleh karenanya sebaiknya juga diantisipasi secara optimal. Berimbas bisa terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Sebagai orang bergama, kita juga sepantasnya mengantisipasi 'ketidaksukaan' atau lebih jauh, 'kemarahan' Sang Tuhan. Jadi, perencanaan sebuah pengalaman adalah sebuah upaya proaktif dan antisipatif terbaik untuk menciptakan the best experiences bagi diri sendiri dan system.

ORGANIZING
Ali bin Abu Thalib mengatakan, 'Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahan oleh kebatilan yang terorganisir'.

Sebuah pengalaman yang tidak termanaje atau tidak pernah terambil hikmahnya sangatlah disayangkan. Bahkan seburuk atau sebenci apapun atau bahkan sampai trauma, tetaplah bahwa pengalaman adalah kekayaan kita. Dia tidak bisa dihilangkan, paling juga sekedar dilupakan saja. Gde Prama pernah menulis dalam artikelnya, 'Tuhan terkadang berbicara kepada kita justru melalui kesalahan-kesalahan yang kita buat'. Ada harapan besar dari Tuhan, agar kita menghikmahi apapun pengalaman kita.

Apa pun yg menjadi pengalaman kita di suatu saat, kita harus sikapi bahwa itulah yang terbaik untuk saat itu. Esok, lusa atau kelak adalah perkara lain. Syukur-syukur dengan segala improve dan kerja keras akan membuat sesuatu menjadi lebih baik atau semakin baik.

Pengalaman bisa berasal dari pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain bahkan makhluk lain. Dua-duanya harus di_organize secara optimal. Sebagai sesama manusia, akan banyak ujian-ujian kehidupan yang memiliki kesamaan atau kemiripan. Sementara dari kehidupan makhluk lain, tidak jarang pula terilhami banyak watak dan perilaku yang menyiratkan banyak makna.

Idealnya, semakin banyak kosa pengalaman dengan kosa warna dan pelaku yang juga beragam, maka akan semakin lengkaplah file-file jurisprudensi kita. Oleh karenanya, akan sangat bermanfaat, jikalau kita mau dan mampu untuk terus mengkoleksi pengalaman-pengalaman terbaik.

Bagi orang-orang tertentu, pengalaman-pengalaman yangg dimilikinya bahkan juga dicoba untuk disebarkan kepada orang lain. Jadilah banyak buku ilmiah, biografi, tips-tips, bunga rampai dan sebagainya. Kesemuanya itu adalah produk dari pengalaman yang bersangkutan, entah itu pengalaman kejiwaan, akal, jasmani ataupun rasa. Hal ini adalah positif, karena akan memperkaya referensi dan jurisprudensi buat mereka yang mau membacanya.

ACTUATING
Dari Planning dan Organizing yang optimal, kita akan melangkah lebih ringan ketika harus mengkomunikasikan pengalaman terbaru pada diri sendiri. Kondisi ini akan semakin ringan lagi, dengan kekayaan pengetahuan dan wawasan diri yang selalu ter_update melalui aktifitas pembelajaran.

Kita akan semakin terkondisikan secara tidak sengaja ke dalam penyikapan yang semakin jujur dan kritis. Setiap pengalaman disikapi dengan sikap-sikap terbaik tersebut.

Ada satu hal yang tidak kalah menarik, dari sekian banyak jurisprudensi pastilah akan selalu ada benang merah yang bisa kita ambil. Benang merah yang ditarik dengan sikap-sikap jujur dan kritis pastilah akan menjadi sebuah benang merah yang terbaik. Dia memiliki kekuatan nilai yang kuat dan termungkinkan teraplikasikan dalam banyak kejadian selanjutnya.

CONTROLLING
Aktifitas controlling meliputi kegiatan pengendalian diri saat munculnya pengalaman terbaru. Terhadap pengalaman sejenis, mestinya bisa diselesaikan dengan mudah. Terhadap pengalaman lain yang lebih berat, dengan modal pengalaman terdahulu yg hampir mirip, mestinya kita sedikit PD dan berkeyakinan bahwa dengan tambahan effort pastilah akan teratasi. Di sini, kemiripan bisa jadi karena mirip dengan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain.

Lha untuk pengalaman terberat dan tidak ada kemiripan dengan pengalaman terdahulu, kiranya kita terima saja, kita pelajari, kita nikmati dan kita jadikan sebagai arsip dan modal atau jurisprudensi terbaru. Suatu saat, pasti akan terpakai juga.

........

Dengan tEM yang optimal, maka sebuah produktifitas kehidupan akan terwujud. Kemarin boleh salah, tapi tidak untuk hari ini apalagi esok. Minimal kesalahan-kesalahan tersebut terus semakin berkurang. Kemarin bisa jadi kurang ilmu, maka hari ini haruslah sudah bertambah. Inilah esensi sebuah hidup itu sendiri. Berlawanan dengan mati yang berujung kepada kepunahan, hidup adalah perjalanan yang makin sempurna. Kalau dibahasakan dengan ilmu matematika dasar, maka kehidupan adalah menciptakan gradien yang selalu positif.

Salam Membangun Gradien Positif
Hendras

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home