Tuesday, March 20, 2007

Kekhawatiran Berlebih Ke Anak

Memiliki anak di era sekarang, selain sebuah tugas yang maha berat juga terlalu sering menghadirkan kekhawatiran yang teramat sangat. Saat-saat ini, pengaruh negative lingkungan begitu dominan. Hampir-hampir sisi positip entah dari keluarga, sekolah dan lingkungan masjid tidak mampu mengimbanginya lagi. Keadaan ini makin diperpincang dengan hadirnya menu TV, menu radio dan menu media massa yang banyak dieksploitasi oleh komoditi ekonomis.

Aku pernah tersentak kaget, bingung dan sedikit gemes akibat satu pertanyaan ‘nakal’ dari Dykall, anak sulungku yang baru beranjak 9 tahun. Kisahnya begini,…. Di suatu malam saat mengobrol berdua, Dykall menanyakan sesuatu hal. Dia bertanya, “ Ayah, sebelum orang tua memiliki anak apa yang dilakukan?”.

Mak deg rasaning atiku, …… Emosiku pun sedikit tersulut. Terbayang olehku, wah jangan-jangan anakku sudah ‘pintar’ yang terlampau jauh. Pikirku, masuk akal saja kalau hal ini terjadi, mengingat memang sudah sedemikian crowded inputan yang diterima Dykall itu. Sementara saya dan isteri memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mampu tampil sebagai pembimbing yang baik. Waktu terbatas, ilmu dan wawasan juga terbatas, apatah lagi kalau melihat sisi-sisi keteladanan, modal keimanan ataupun ketaqwaan. Paling-paling yang kadang diperbanyak adalah harapan dan do’a, smoga anak-anakku kelak menjadi pribadi yang sholeh dan sholihah.

Sambil mencoba bersabar, meredam rasa kecewa dan marah, saya pun mencoba mencari-cari apa jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan ‘nakal’ tadi. Bayangan saya, saya harus mampu menjelaskan sebuah proses reproduksi manusia dengan mengedepankan moralitas agama. Lama masih belum juga terketemukan. Ternyata, memang tidak mudah untuk menemukan rangkaian kata-kata yang pas untuk konsumsi anak seumur itu.

Mungkin karena lama menunggu, sementara belum juga keluar sebuah jawaban dari saya, Dykall pun mencoba memperjelas maksud pertanyaannya.
Maksudnya, apakah sebelum memiliki anak seseorang haruslah menikah. Dan sebelum menikah, maka seseorang tersebut juga harus bekerja terlebih dahulu. Apakah begitu Yah?” begitu dia menambahkan.

MasyaAlloh, Astaghfirullah, Alhamdulillah,….
Kalau tadi Mak Deg, kini Mak Cesss rasaning atiku. Dykall ternyata menanyakan hal yang sangat bagus. Pertanyaan dua hal terpenting sebagai penyempurna proses pra reproduksi. Bekerja adalah penyiapan nafkah bagi tumbuh kembang anak-anak dan keluarga. Menikah adalah gerbang syar’i yang bisa mengubah sesuatu maksiat menjadi sebuah ibadah.

Astaghfirullah,…. Lho kok yaa saya tidak kepikiran hal yang seperti itu. Awakku kok malah kadung mikir sing ora-ora. Alhamdulillah,…. Ternyata Dykall masih lurus, tapi sayalah yang khawatir berlebihan. Andaikan saja, saya tahu dan mampu berpikir secara proporsional lagi, mestinya Dykall tidak harus menunggu jawaban selama itu, terlebih jawaban tersebut juga tidak kunjung muncul juga hingga ia memperjelasnya.

Terima kasih Dykall, ayah tidak perlu mencari jawaban yang belum ketemu tadi itu. Terima kasih juga, karena pertanyaan penjelasmu juga sangat memudahkan jawaban yang harus ayah sampaikan kepadamu.
Jawaban ayahmu adalah, “Betul, …. Mamas sangat pintar dan kelak jika Mamas besar pun harus demikian. Bekerja dan Menikah. Sudah tentu, semuanya harus dipersiapkan dengan belajar, belajar dan belajar”. [Bpp, 20Maret2007] ##

1 Comments:

At 10:11 AM, Anonymous Anonymous said...

ayah, ayah, cara berpikir Dykall kan nggak sejorok ayah ?

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home