Makan Bermenukan Penyakit
Slogan wong Jowo ‘Mangan Ora Mangan Asal Ngumpul’ sekarang semakin banyak yang berani membalikkannya menjadi ‘Kumpul Ora Kumpul Asal Mangan’. Tidak ada yang salah dengan dua slogan tersebut, yang seolah saling berlawanan bahkan mematahkan. Slogan pertama jelas dimaksudkan untuk mengedepankan substansi kebersamaan. Bahwa dengan ngumpul bersama, maka segala masalah akan tersolusikan termasuk seandainya ada yang tidak berkemampuan untuk makan.
Slogan kedua pun tidak kalah benar. Bahwa kehidupan saat ini dan ke depan buaknnya makin mudah, tapi makin sulit. Kehidupan kini identik dengan biaya tinggi, kecerdikan tinggi, kepintaran tinggi, modal tinggi, inovasi tinggi dan hal2 tinggi lainnya. Sangat wajar dan masuk akal, kalau akhirnya orang berpandangan bahwa focus pertama adalah bisa mengais rejeki dulu. Masalah tempat tinggal mau di mana bukan masalah. Ngapain terus ngumpul kalau harus menanggung lapar.
Slogan kedua, muncul seiring dengan tumbuhnya budaya materialistis yang merasuk di semua sendi kehidupan, hingga ke sendi-sendi tulang bahkan. Budaya materialistis adalah paham budaya yang mengedepankan keunggulan hanya pada hal-hal yang mampu ditangkap oleh lima indera manusia. Semuanya focus on physically, not essence. Bodi okey, rumah dan mobil mewah, penampilan keren atau semacamnya.
Dalam masalah makan, tak juga luput dari semangat matre di atas. Makan yang pada awalnya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan akan nutrisi tubuh, kini sudah banyak yang menyimpang. Dulu, makan adalah untuk hidup. Namun kini sudah hampir sebaliknya, hidup seolah untuk makan.
Good Food adalah makan yang halal dan sehat. Kita mestinya berfikir panjang sebelum berani memasukan makanan ke dalam mulut kita. Sebisa mungkin, makanan yang kita telan adalah halal baik fisik ataupun cara perolehannya. Kedua, maka kita pun harus yakin bahwa makanan yang masuk ke tubuh kita adalah makanan yang akan menyehatkan, dan bukan sebaliknya.
Di sisi lain, kini di sekitar kita tumbuh begitu ramai bisnis aneka makanan. Kehalalan sangat sering masih harus dipertanyakan. Label ‘HALAL’ palsu masih ada, pencantuman data kandungan makanan juga kadang masih belum jujur. Kita sering masih tertipu dan lalai untuk hal-hal beginian.
Menyangkut masalah makanan sehat, tidak juga lebih sederhana. Pilihan makanan sehat tapi enak hampir-hampir tidak ada. Yang banyak adalah makanan penuh selera rasa, mak nyoss atau makanan yang mampu menggoyang lidah si penyantap. Celakanya, aneka rasa yang sedap itu justru dihasilkan dari bahan-bahan yang tidak sehat. Dengan kata lain, rasa penuh selera tersebut hadir bersama aneka bahaya penyakit yang tidak jarang sangat berbahaya.
Kondisi tersebut mangkin kurang adhem, karena pemaknaan atas aktifitas makan pun mengalami pergeseran. Makan kadang dianggap sebagai aktualisasi, symbol identity atau pelampiasan emosional. Kalau sudah begini, bukanlah lagi makan agar sehat. Yang muncul berikutnya adalah makan supaya senang, supaya dihargai atau supaya dikenal.
Tidak aneh, kalau kini muncul beraneka penyakit yang diakibatkan oleh makanan yang kita santap. Olah raga, puasa, siklus tidur sehat atau menghindari makanan tertentu sudah jarang pula kita perhatikan. Yang ada, yang penting senang, tidak capek, asik atau enak rasanya toh kantong pun masih sanggup untuk membayarnya. Itulah pilihan, dan tiap pilihan pasti ada konsekuensinya.
Aneh, sungguh aneh. Lha wong makan penyakit kok kita gak nyadar. Sudah gitu, sering kita harus membayar mahal untuk penyakit yang kita undang itu. Selanjutnya juga, kita pun harus membayar mahal untuk penyakit itu kelak. Bukan saja biaya pengobatan, rasa sakit atau keterbatasan fisik. Lebih jauh lagi, kelak kita juga akan ditanyai olehNYA, seberapa amanah kita atas titipan tubuh ini. Astaghfirullaha al’azhiim,…
[Bpp, 17 Maret 2007]



0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home