Tuesday, March 20, 2007

Sampah Non Fisik

Sampah, secara harfiah kurang lebih memiliki arti hasil samping sebuah proses produksi yang tidak bermanfaat. Secara kontekstual, sampah berarti sesuatu yang sudah tidak lagi berguna dan oleh karenanya layak untuk dicampakkan atau dibuang.

Di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita hampir selalu dijumpai banyak sampah, di manapun dan kapan pun. Secara fisik, tubuh kita memproduksi sampah dalam ukuran dan macam yang relative banyak. Coba kita hitung. Berapa mLiter keringat, air seni dan ludah yang kita keluarkan dalam sehari. Berapa mGram feses dan daki yang keluar dari tubuh kita per harinya.

Di luar tubuh kita, berapa kGram sampah-sampah yang sudah kita hasilkan, yang terkadang masih tanpa disertai pembuangan yang benar. Di dalam rumah kita, sampah-sampah yang berasal dari limbah masakan, bungkus, imbas kegiatan kreatifitas anak-anak, debu, sisa-sisa makanan, barang-barang rumah tangga yang rusak, kotoran binatang, rumput-rumput tanaman yang kita potong dan lain sebagainya.

Keluar dari rumah kita, entah di jalanan, sekolah-sekolah, kantor-kantor, pusat aktifitas ekonomi, lapangan, pelabuhan, bandara, terminal hingga instansi-instansi yang terkait langsung dengan persampahan, juga memproduksi sampah dalam bilangan yang tidak sedikit. Singkat kata, hampir tidak ada tempat yang tidak bersampah. Semua berpotensi menghasilkan sampah, walaupun terdapat variasi macam dan volumenya.

Ada sampah fisik, ada lagi sampah non fisik. Sampah non fisik, tentu tidak bisa terlihat oleh mata, tapi mudah dikenali. Sebagai contoh, kita mengenal dengan sangat familiar, apa itu sampah masyarakat. Ungkapan ini berkonotasi sangat dekat dengan sebutan bagi siapapun yang dalam hidupnya dominant hanya sebagai beban bagi masyarakat lainnya.

Menengok sampah non fisik yang ada dalam diri kita juga tidak sulit. Sesuai dengan definisinya, sampah tersebut hadir dalam wujud yang sangat banyak. Perilaku, kebiasaan dan karakter yang negative dan cenderung merusak kemuliaan insaniyah, adalah sampah non fisik tersebut. Seperti sampah fisik, sampah non fisik pun menimbulkan bau tak enak, menjadi sarang sumber penyakit, dan secara otomatis akan menurunkan derajat kesehatan. Dalam banyak hal, memang dibutuhkan sensitifitas yang cukup untuk bisa merasakan efek-fek tersebut.

Deepak Chopra, pakar pengobatan quantum dari India, sangat meyakini sekaligus telah banyak membuktikan bahwa pengobatan sakit fisik akan berproses lebih cepat jika disertai dengan terapi non fisik atau kejiwaan. Ajaibnya, tidak sedikit para pasiennya yang telah divonis tidak akan berumur panjang akibat sakit fisiknya, dengan metode pengobatan yang integral ini si pasien malah sembuh secara total.

Gede Prama, pernah menulis dengan sangat indah sebuah ungkapan berkaitan dengan sampah non fisik ini. Beliau bertutur, andai saja tubuh ini bisa membuang beban-beban yang tak perlu, niscaya tubuh ini mampu terbayang melayang layaknya seekor burung. Beban-beban itu adalah prasangka buruk, iri dengki, malas, berpikir hal-hal yang mubazir dan sejenisnya. Kesuksesan kita meninggalkan beban-beban tersebut, akan membawa kita terbang seperti syair lagu Westlife : Flying Without Wings.

Tentunya, dibutuhkan kemampuan pengelolaan sampah yang jitu. Mengelola sampah fisik sering membuat seorang Gubernur Jawa Barat kewalahan gak ketulungan. Nah, tidak beda dengan sampah non fisik yang bercokol di dalam diri kita itu.

Garbage Management, tak akan sempurna tanpa visi, tekad dan kerja keras. Flying Without Wings bukanlah hadiah hanya karena kita berulang tahun. Enyahnya sampah non fisik ini adalah hasil kerja ikhlas, kerja pintar dan kerja keras. Tanpa ini semua, yang kelak terjadi adalah diri kita bak lautan sampah. Diri yang dipenuhi sampah fisik dan sampah non fisik. Kita semua tidak menginginkan demikian tentunya. [Bpp, 20 Maret 2007] ##

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home