Tuesday, March 20, 2007

Sayang Anak Sejati

Dulu, semasa SMA hingga kuliah saya termasuk pengguna yang sangat loyal terhadap sarana angkut kereta api kelas ekonomi, terutama Jurusan Bandung – Surabaya. Alasannya adalah factor efisiensi dan efektifitas. Dengan posisi kampung halaman yang unik di Gandrung Mangu - Sidareja - Cilacap, maka sarana kereta api inilah yang bisa dijangkau dengan paling cepat dan paling murah. Sebagai orang sekolahan, ditambah dengan ekonomi yang pas-pasan, sudah tentu inilah pilihan terbaik saya. Wow,...... keren.

Kembali ke cerita perjalanan dengan kereta api ekonomi, perjalanan Sidareja – Solo atau Sidareja – Bandung biasanya memakan waktu yang cukup lama, antara 5 hingga 6 jam. Suasana didalam gerbong kadang penuh sesak apalagi pada saat-saat peak season seperti saat lebaran tiba. Rasanya cukup panas, pengap dan tidak jarang disertai dengan aneka bau atau suara yang tidak menyamankan.

Di dalam gerbong yang penuh sesak itu, berlalu lalang para penumpang, para penjual dari aneka makanan atau minuman, penjual aneka mainan atau pedagang souvenir lainnya. Ada hal yang sangat menarik buat saya saat itu, yakni cara para penjual mainan menawarkan barang dagangannya. Hampir setiap perkataan penawarannya di sertai ucapan kata-kata “SAYANG ANAK – SAYANG ANAK’. Terkadang masih ditambahi, “SAYANG KAKEK, SAYANG CUCU, SAYANG ISTERI atau SAYANG SUAMI”. Entah apa maksud sesungguhnya, mungkin sekedar mengingatkan untuk menyayangi anak sekaligus membeli mainannya sebagai tanda atas rasa sayangnya itu.

Karena masih bujangan, saya hampir gak terpikirkan apa arti dari kata-kata indah itu. Hampir-hampir saya setuju 100% kepada mangs penjual itu, bahwa sayang anak yaa harus disertai bukti. Dan membelikan mainan adalah salah satunya. Bisa jadi karena posisi saya saat itu masih sebagai anak, sehingga secara otomatis sangat diuntungkan dengan argument ini. Biasa tho, posisi seseorang akan sangat menentukan sikap politisnya, he he ...

Kini, saat-saat indah itu telah berlalu hampir 12 tahun lamanya. Kini, saya juga sudah bertambah tidak saja sebagai seorang anak, tapi juga sebagai orang tua dengan 2 putra dan 1 putri. Posisi saya kini bukanlah posisi saya masa itu. Kini sudah tidak mungkin saya memposisikan diri sebagai anak lagi, meski kedua orang tua masih hidup. Kini, posisi sebagai orang tua justru haruslah dominant.

Dengan posisi baru tersebut, baru agak terpikirkan seperti apa tafsir yang seharusnya atas kata-kata “SAYANG ANAK” itu. Sebagai orang tua, menyayangi anak adalah berkonteks long term, berjangka sangat panjang termasuk hingga perjalanan menuju negeri akhirat. Sayang anak tidak dilihatkan pada apek parsial dan temporer semata. Semua terorganize secara utuh menuju performansi utama sesuai tujuan Sang Maha Pencipta.

Dulu, sayang anak berarti menuruti segala impian anak, maka kini beda.
Dulu, sayang anak berarti tidak pernah ditolak permintaannya, kini jelas tidak.
Dulu, sayang anak berarti tidak perlu memberi tanggung jawab, kini juga tidak lagi.
Dulu, sayang anak berarti, tauladan tidak terlampau perlu, maka kini juga berubah.
Dulu, membayangkan sebagai orang tua itu gampang. Kini baru merasakan, bahwa menjadinya adalah sebuah amanah yang maha berat.

Kini saya menjadi lebih mengerti, bahwa saya harus menyayangi anak-anak karena mereka adalah amanahNYA yang harus saya tunaikan secara optimal. Alloh mendesain anak-anak itu dengan suatu spesifikasi dan tujuan tertentu. Alloh menitipkan kepada saya dan isteri karena kami dinilai mampu untuk melakukannya. Alloh Maha Benar.

Di sinilah esensi tugas yang maha berat itu. Kita masih ingat, ada kisah-kisah orang tua yang hingga jatuh stress karena tugas ini. Kasus Ani Koriah di Bandung dan kejadian nekat seorang ibu di Malang yang bunuh diri setelah membunuh keempat anaknya, adalah sebagian dari kasus ekstrem itu. Nau’udzubillahi min dzaalik,….

Sayang anak adalah sayang anak kini, esok, lusa dan mendatang. Sayang anak berdimensi lahir dan bathin, dunia dan akherat. Sayang anak haruslah terejawantahkan dalam konteks yang menyeluruh seperti ini. Tidak salah, terkadang anak harus kecewa dengan keinginannya yang salah. Tidak mengapa, kita membiarkan anak kita menangis, berpeluh keringat, menahan kantuk ataupun menelan ludah asalkan bertujuan baik.

Namun, ada satu hal penting,…..Mereka pun coba kita ajak untuk mengerti, mengapa kita tega membiarkan mereka untuk 'nelangsa' seperti itu. Itulah makna yang saya pahami atas SAYANG ANAK SEJATI. Wallohu A’lamu ##

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home