Tuesday, March 27, 2007

Sayang Anak Versi Begawan Wisrawa (1)

Sepenggal episode dari cerita pewayangan Ramayana mengisahkan tentang jatuhnya Sang Begawan Wisrawa, Raja Negeri Lokapala yang bijak, bermartabat, adil dan mampu mensejahterakan rakyatnya. Hingga dirinya melengserkan diri dan lalu digantikan oleh Sang Putra Mahkota, Prabu Danapati, nyaris tidak ada cacat yang berarti. Semua yang berkaitan dengan dirinya, maka hampir semuanya adalah kumpulan cerita indah kesuksesan seorang pemimpin, termasuk juga dimensi spirituilnya.

Cerita kejatuhan sang Begawan justru berawal dari keinginan Sang Raja Muda yang berkeinginan untuk mempersunting Dewi Sukesi, seorang gadis jelita putri Raja Alengkadirja, Prabu Sumali. Wajar saja dan tidak mustahil, lha wong seorang raja menginginkan seorang putri raja.

Di antara sekian banyak persyaratan yang diminta pihak Alengkadirja, ada satu hal yang belum bisa dipenuhi oleh Raja Prabu Danapati. Permintaan tersebut adalah ‘transfer ilmu’ Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang secara khusus diminta oleh Dewi Sukesi. Ilmu tersebut diyakininya dapat dipakai untuk menaklukkan nafsu angkaramurka para raksasa yang memang menguasai negeri Alengkadirja. Sebagai seorang putri raja, Dewi Sukesi berkeinginan membawa Negeri Alengkadirja lebih hebat di masa depan.

Sayang seribu sayang, Prabu Danapati tidak menguasai ilmu tersebut. Bahkan seantera negeri Lokapala ataupun Alengkadirja pun, hampir tidak ada yang menguasainya. Andaikan ada, Dewi Sukesi sangat berkenan untuk dipersuntingnya, siapapun dia.

Alkisah, si penguasa ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanyalah Begawan Wisrawa. Sang Begawan memang menguasainya, tapi tentu tidak berminat untuk mempersunting Dewi Sukesi. Apalagi, track record dan maqom spirituilnya ketika itu juga cukup tinggi. Bisa dibilang, mustahil kalau Sang Begawan kok masih tertarik pada kenikmatan yang tidak abadi itu.

Kokohnya integritas Sang Begawan, sangat mungkin membangkitkan adrenalin para syetan penggoda. Tentunya, bagi syetan ‘positip’ kondisi seperti ini adalah sebuah tantangan yang menarik untuk coba ditaklukkan. Berputar otak mereka mencari jalan untuk menjatuhnkan Sang Begawan. Terakhir, mereka menemukan jalannya yaitu melalui anak Sang Begawan, Prabu Danapati.

Syetan mencoba mengusik ‘rasa sayang’ Sang Begawan atas kesulitan anaknya. Prabu Danapati belum mampu memenuhi sebuah persyaratan yang tengah dinanti Dewi Sukesi, sementara satu-satunya solusi kini ada di tangan Sang Begawan. Syetan memang terlahir untuk menggoda, maka teruslah mereka menggoda dengan terus menajamkan strategi dan siasatnya. Target mereka, mampu menjebol pertahanan pertama Sang Begawan, sekedar mau menolong sang anak dengan mentransfer ilmunya ke Dewi Sukesi.

Sang Begawan takluk di pertahanan pertama. Demi sang anak, Sang Begawan siap untuk mentransfer ilmunya. Toh sekedar mentransfer, tanpa ada hal-hal lain yang buruk begitu pikirnya. Benar-benar Sang Begawan hanya berpikir pendek, pragmatis, dan instant saja.

Momen penting transfer ‘knowledge’ pun datang. Karena Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah high-tech, highscience maka diperlukan suasana khusus sehingga mudah focus. Transfer knowledge akhirnya disepakati dilakukan di ruang tertutup tanpa kehadiran wayang lain. Praktis hanya Sang Begawan dan Si Cantik Jelita, Dewi Suksesi.

Sementara proses transfer knowledge berlangsung, para professional penggoda – syaetan mulai melancarkan aksi-aksi heboh berikutnya. Mereka mengerubuti sekaligus menghembuskan godaan-godaan maut baik kepada Sang Begawan ataupun Dewi Sukesi. ALkisah, godaan syetan tersebut pun akhirnya berhasil menaklukkan benteng pertahanan terdalam keduanya. Sang Begawan dan Dewi Sukesi terlibat hubungan badan yang haram itu.

Tergelincirnya kedua wayang tersebut, adalah awal sebuah huru-hara besar, yakni Perang Ramayana. Hubungan haram mereka melahirkan bayi wayang berfisik raksasa penuh durjana, yaitu Rahwana atau Dasamuka. Kelak, bersama pengikut setianya Rahwana tersebut berhadapan dengan Prabu Rama beserta pengikutnya. Keduanya mewakili symbol perlawanan antara keburukan dan kebaikan. ##

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home