Sayang Anak Versi Begawan Wisrawa (2)
Sayang anak adalah sebuah aktifitas paripurna menyayangi anak dengan dimensi kini-esok, dunia-akhirat dan lahir-bathin. Sayang anak terkadang harus mewujud sebagai ‘penderitaan’ anak, berkekurangan dan berpeluh keringat. Tidak salah bahkan, seandainyapun mereka harus kecewa, menangis, merasakan gagal dan jatuh bangun dalam mencapai keinginannya.
Sayang anak berarti juga sebuah perjalanan panjang. Main Goal atau sasaran utamanya justru bukanlah output hari ini atau besok pagi. Main goalnya adalah performance terbaik anak-anak ketika mereka menghadapNYA kembali kelak. Kita tetntu sangat menginginkan, mereka mampu menemuiNYA kelak dalam keadaan ridlo kepadaNYA dan DIA pun ridlo atas mereka.
Di sisi lain, tujuan besar hampir selalu identik dengan pengorbanan besar. Pengorbanan besar ini meliputi materi, waktu, pikiran, emosi, kesabaran dan bahkan keimanan. Pengorbanan-pengorbanan tersebut harus ditanggung oleh semua pihak terkait, seperti orang tua, anak-anak, keluarga besar, masyarakat dan pihak lain. Hanya saja, yang paling dominant adalah orang tua dan anak-anak sendiri.
Gede Prama pernah bertutur dengan apik tentang peran penting sebuah kegagalan, kekalahan, kemiskinan, keberkekurangan, tentang kesederhanaan termasuk hikmah datangnya kematian. Beliau sampaikan, lewat pintu-pintu inilah justru kita diajak masuk gerbangnya keindahan, kebahagiaan, kebaikan dan kesempurnaan kehidupan. Beliau juga menambahkan, pintu-pintu kemenangan, keberlebihan atau kekayaan seringkali sangat tidak mampu untuk tugas yang satu ini.
Kembali kepada kisah Sang Begawan Wisrawa (BW), realitasnya dia telah salah mengaktualisasikan rasa sayang atas anaknya, Prabu Danapati (PD). BW terjebak dalam keputusan sesaat, pragmatis, instant (kini-dunia-lahir) dan sangat jauh dari dimensi-dimensi esok-akhirat-lahir. Andaipun BW berhasil, memutuskan ‘menolong’ sang anak dengan cara instant adalah keputusan salah besar. Tindakannya, bukanlah aktualisasi sayang anak, tapi lebih tepat disebut sebagai penjerumusan.
Di mana detil upaya penjerumusan anak yang dilakukan Begawan Wisrawa?
Pertama, BW gagal menanamkan nilai-nilai penting terkait dengan orientasi kehidupan. BW gagal menanamkan Manajemen Prioritas, bahwa ada tingkatan-tingkatan urgensi dalam setiap aspek hidup ini. Mustinya, bagi PD seorang Dewi Sukesi (DS) adalah bukanlah segalanya. Kalaupun mau dijadikan sebagai sebuah goal, maka tetap dalam koridor proses yang bermartabat dan tidak menghalalkan segala cara.
Kedua, BW melakukan penyangkalan atas keyakinan dirinya. Seorang BW pastilah mengetahui, bahwasannya keberadaan dirinya sebagai joki buat anaknya adalah kesalahan. BW pastilah mengerti sekali, bahwa PD mustinya berjuang dulu, entah dengan belajar kepada bapaknya atau merubah sasaran targetnya. Yang akhirnya terjadi, BW bahkan gagal juga mempertahankan integritas atas dirinya.
Ketiga, BW tidak mau melihat anaknya ‘sengsara’. Keteguhan integritas BW luntur, lantaran keengganan melihat anaknya untuk kecewa, ditolak, gagal, bekerja keras atau sakit hati. Mustinya, semuanya itu disikapi sebagai bagian dari pengorbanan dari sang anak.
Keempat, BW tidak mampu melakukan tindakan penyelamatan terakhir. Mustinya, BW berusaha ‘mensadarkan’ PD atas pilihannya kepada DS. Andai saja, BW mungkin merasa telah gagal atas proses pendidikan anaknya PD, tetap saja tidak boleh membalasnya dengan memberi ‘hadiah buruk’. Sungguh banyak hal demikian dilakukan oleh para orang tua hingga kini. Bentuknya bisa bermacam-macam, antara lain pemanjaan materi, cenderung permissive, menghilangkan pembebanan tanggung jawab atau bahkan bersedian menjadikan dirinya sebagai ‘babu’ atau budak bagi anak-anaknya.
Anak-anak kita memang terlahir sebagai darah daging kita. Namun, mereka adalah mereka. Khalil Gibran menyitir, bahwa jiwa seorang anak adalah merdeka. Mereka terlahirkan dengan draft tujuanNYA yang tersendiri. Para orang tua hanyalah terwajibkan sebagai pihak yang paling berwajib atas pembimbingan para anak-anaknya menemukan dirinya itu. Orang tua adalah sebagai special coach, main facilitator atau sebagai mentor utama.
Penjerumusan anak secara terselubung, tidak saja merugikan sang anak tapi juga orang tua. Anak semakin tidak mensadari jalan salahnya. Orang tua bahkan bisa kehilangan martabat mulianya. Namanya juga penjerumusan, memang tidak ada pihak yang diuntungkan, kecuali makhluk laknatullah para syetan durjana itu. Naudzubillahi min dzaalika,…. ##



0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home