Saturday, March 17, 2007

Selalu Ada Sisi Yang Tertinggal

Kalau anda berkesempatan, cobalah sesekali tengok seperti apakah kondisi atap rumah anda utamanya di atas plafon. Apapun jenis plafon rumah anda, entah plafon triplek biasa, ethernit asbes, plafon indah bergipsum atau lainnya. Dari beberapa kali saya menaiki sisi atas rumah sederhana saya, saya menjumpai banyak hal ‘lebih buruk’ terutama kalau saya bandingkan dengan rapihnya plafon di sisi sebaliknya.

Suasana gelap, kayu-kayu rangka plafon saling melintang, sampah atau kotoran menyebar di seantero plafon minimal debu-debu, jaringan kabel listrik dan telpon yang tertata ala kadarnya atau terkadang seonggok kotoran kucing yang kekebtulan sudah mengering. Walaupun tidak terlalu bagus, hal-hal tersebut sangatlah kontras dengan tampilan sisi luar plafon yang dapat kita nikmati itu.

Di balik indahnya lemari baju, lemari dapur atau lemari buku yang ada di rumah kita, pun ada sisi yang ‘lebih buruk’ dari sisi luarnya. Hampir secara umum, sisi luar sebuah lemari jauh lebih halus, lebih indah, lebih rapih pengerjaannya dan lebih bagus sentuhan dan pilihan warna atasnya.

Ranjang atau tempat tidur kita pun demikian adanya. Kalau juga anda berkesempatan menengok sisi bawahnya, akan tampaknlah di sana kayu papan penyangga kasur yang tidak bercat atau sisi-sisi bawah dalam rangka yang bercat ala kadarnya. Dibandingkan dengan sisi atas dan sisi luar rangka ranjang tersebut, pastilah terjumpai apa-apa yang menjadi kelebihan sisi luar tersebut.

Sejumlah meja dan kursi yang kita miliki juga memiliki cerita yang sama. Kemudian yang juga tidak sulit kita jumpai adalah perbandingan sisi dalam dan sisi luar baju-baju kita, sebagian perabotan-perabotan rumah tangga kita, tas-tas sekolah anak-anak kita juga tas kita sendiri.

Komputer yang selama ini menjadi teman baik kita, juga setali tiga uang. CPU yang sebegitu rapihnya tampak di luar tetap saja menghadirkan ketimpangan antara sisi luar dan sisi dalam termasuk sisi depan dan sisi belakangnya. Peralatan elektronik lain juga sama, entah itu TV, radio tape, VCD/DVD/MP3 player, dan masih banyak contoh lainnya.

Dari beberapa sisi tampak di atas, saya bukan bermaksud untuk mengajak mengoreksi bareng untuk kemudian mengupayakan agar tidak ada ketimpangan antar dua sisi luar dan sisi dalam tadi. Bukan sama sekali. Menurut saya, justru itulah sebuah kealamiahan yang banyak menghadirkan makna berharga.

Sepertinya, tidaklah mungkin kita akan mampu menjadikan sisi dalam dan sisi luar sama bagusnya. Sulit kayaknya menciptakan sisi atas plafon sama bersih, sama rapih dan sama menarik dengan sisi bawah. Sulit juga kita membuat sisi-sisi dalam lemari, ranjang tempat tidur, meja atau kursi untuk memiliki kualitas indah, menarik dan rapih yang setara dengan sisi luarnya.

Prinsip salah seorang sahabat saya dalam menyikapi pendapatan atau gaji yang masih terbatas sementara banyak godaan konsumtif yang bahkan ditunjukkan oleh orang-orang dekat. Beliau bilang, ‘ Gaji kita mungkin sama, tapi tidak untuk outputnya. Tidak mungkin saya memenuhi kesemuanya secara berlimpah. Oleh karenanya, harus ada yang saya korbankan “. Memang alhamdulillah, kehidupan sahabat saya ini cukup terlihat adem dan nyaman. Paling tidak adalah dari sisi materi yang bisa saya saksikan.

Goethe, secara gamblang menuliskan : “ Hal-hal terpenting, tidaklah boleh diposisikan di bawah hal-hal yang tidak penting ”. Dalam kaidah ushul fikih, kita diajarkan untuk tahu bahwa segala hal yang menentukan kesempurnaan hajat wajib, maka menjadi wajiblah hal-hal tersebut. Stephen Covey menilai bahwa prinsip ‘Dahulukan Yang Utama’ adalah satu diantara tujuh prinsip terpenting guna menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang efektif.

Status hukum terhadap amal-amal ibadah yang beragam dari wajib, sunnat muakkadah, sunnat, makruh hingga hukum haram juga mensiratkan ajaran manajemen prioritas. Ada juga sebuah cerita seorang sahabat nabi yang dihargai menjadi haji mabrur padahal tidak jadi berhaji, hanya karena keikhlasan merealokasikan anggaran hajinya untuk membantu kaum dhuafa tetangganya yang sangat membutuhkan.

Kemampuan memprioritaskan banyak hal secara positip proporsional sangatlah penting. Seorang kepala keluarga akan sangat mungkin terhindarkan dari kepailitan keluarga akibat terlilit hutang. Seorang pelajar atau mahasiswa akan optimal menjalani masa-masa pembelajarannya karena mampu konsisten dengan prioritas terbaik yangtelah dibuatnya. Bahkan kehebatan para pemimpin pun tidak lepas dari kemampuan yang satu ini.

Jadi, siapapun dan apapun posisinya, jelas harus ngerti, tahu, paham dan mampu membuat skala prioritas yang benar dan baik. Siapapun dan dimanapun dikarenakan tidaklah ada barang satu orang pun yang berdiri di manapun, yang tidak dikelilingi masalah, beban dan kemampuan. Meminjam persepsi SWOT Analysis, maka semua orang pastilah memiliki strength, weakness, opportunity dan threaten. Oleh karenanya dibutuhkan pengelolaan terbaik dengan skala prioritas yang paling tepat.

Terakhir buat kita, Sudahkah kita mampu dan mau merealisasikan skala prioritas yang benar juga baik? Wallohu A’lam ##

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home