Friday, September 07, 2007

Demi HP, Gaji 2 Bulan Pertama Diikhlaskan

Mbak Nia, PRT di rumah saya 2 minggu lalu ijin berlibur bulanannya. Biasanya cukup 2 hari, kali itu minta tambahan 1 hari. Pasalnya, dia mau membeli HP. Dia telah mengumpulkan gaji selama 2 bulan pertama, dan menurut perhitungannya sudah mencukupi untuk sebuah HP. Dia memang mau membeli HP dengan harga berkisar 600 ribu rupiah. Dengan gaji 500 ribu perbulan, gaji 2 bulan telah lebih dari cukup.

Ketika Mbak Nia kembali dari liburnya, dia pun memperlihatkan HP barunya. Merek NOKIA, harga 600 ribu rupiah sudah termasuk kartu perdana AS. Kini, mbak Nia memiliki mainan baru, sebuah alat komunikasi HP yang juga dilengkapi dengan fasilitas radio. Jadi disamping untuk bertelepon ria, lebih sering bahkan difungsikan sebagai pesawat radio. Lagu-lagu kesukaan dari radio favoritnya pun hamper jarang terlewatkan.

Beberapa hal lalu terlintas di benakku. Ternyata, kehidupan di jaman sekarang, variansi kebutuhan menjadi sangatlah banyak. Kalau dulu, saya mengenal kebutuhan pokok hanyalah mencakup pangan, sandang dan papan. Ketiga kebutuhan tersebut adalah kebutuhan primer, di mana tanpa pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut niscaya kehidupan yang bersangkutan akan kacau.

Kalau dulu, kebutuhan pangan dianggap belum terpenuhi manakala tidak ada makanan sesuatupun yang bisa dimakan. Andai saja masih ada nasi dan garam, bahkan masih dianggap lumayan. Anggaplah bahwa kebutuhan pangannya terpenuhi 70%. Saya sendiri pernah mengalami masa-masa sulit ketika masih dibangku SD, sekitar awal tahun 80-an. Untuk menghemat nasi, secara periodic biyung saya menjadualkan sarapan dengan menu non nasi. Antara sego jagung, gethuk gedang dan inthil dipergilirkan terutama di saat musim paceklik tiba.

Kebutuhan sandang, tak kalah serunya dengan pangan. Saya masih ingat, ketika kecil dulu, saat tiba hari lebaran adalah saat yang teramat istimewa. Ketika itulah, satu-satunya kesempatan buat kami memperoleh baju baru. Tapi jangan kira, bahwa baju baru tersebut diperuntukan buat berlebaran. Bapak saya membelikan kami baju seragam sekolah. Atas baju putih, dan bawah disesuaikan dengan seragam masing-masing yang ketika itu belum diatur oleh pemerintah.

Kondisi papan sebagai tempat berteduh, betul-betul hanya memenuhi fungsi paling dasar. Rumah ortu kami, adalah rumah khas desa. Berdinding papan dan anyaman bamboo. Atapnya sudah lumayan, ada genteng soka, seng dan anyaman daun rumbia saling melengkapi. Lantai kami adalah tanah yang dipadatkan. Cukup sering ortu kami menyiramnya, terutama jika sudah muncul debu-debu berterbangan.

Ketika itu, ortu kami dengan 8 anak, memang mebutuhkan biaya yang tidak kecil untuk biaya sekolah. Terlebih lagi, karena di desa kami bahkan hingga kota kecamatan belum ada sekolah SMP apalagi SMA. Konsekuensinya, kami semua harus kos. Penghasilan ortu kami sebagai petani dan peternak, alhamdulillah mencukupi. Meski banyak hal harus dikorbankan, seperti halnya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer di atas.

Kembali ke PRT di rumah saya. Memprioritaskan HP di atas kebutuhan lainnya, tidak juga bisa disalahkan. Inilah jamannya. Kebutuhan primer menurut persepsi kebanyakan orang sekarang telah sangat berbeda dengan persepsi jamannya ortu kami. Dalam hal pangan, sandang dan papan, criteria minimal yang dianggap layak juga sudah sedemikian jauh. Selera, favoritisme, gaya hidup, model dan kualitas sudah menjadi pegangan umum. Tak mengherankan, jika tidak sedikit yang untuk memenuhi petimbangan-pertimbangan tersebut, akhirnya harus terjerat hutang. Inipun juga bagian dari jamannya.

Sungguh berat menjalani kehidupan jaman sekarang. Tuntutan, tantangan dan godaan semakin banyak. Banyak uang saja jelas tidak cukup, apalagi sedikit. Harus juga kuat mental dan kuat spiritual. Dua hal terakhir bisa jadi lebih menyelesaikan, ketimbang hanya berbekal materi yang melimpah. Sayangnya, kedua hal tersebut, kini pun menjadi sesuatu yang semakin sulit digapai.

Ya Alloh, ampuni kami atas segala kekurangan kami.
Kiranya Engkau berkenan menguatkan kami, sehingga perjalanan di sisa-sisa umur kami dapat kami lampaui sesuai garis-garis syariatMu.
Amien, amien Ya Robbal ‘Alamien.

Selengkapnya......!

Tuesday, March 27, 2007

Sayang Anak Versi Begawan Wisrawa (2)

Sayang anak adalah sebuah aktifitas paripurna menyayangi anak dengan dimensi kini-esok, dunia-akhirat dan lahir-bathin. Sayang anak terkadang harus mewujud sebagai ‘penderitaan’ anak, berkekurangan dan berpeluh keringat. Tidak salah bahkan, seandainyapun mereka harus kecewa, menangis, merasakan gagal dan jatuh bangun dalam mencapai keinginannya.

Sayang anak berarti juga sebuah perjalanan panjang. Main Goal atau sasaran utamanya justru bukanlah output hari ini atau besok pagi. Main goalnya adalah performance terbaik anak-anak ketika mereka menghadapNYA kembali kelak. Kita tetntu sangat menginginkan, mereka mampu menemuiNYA kelak dalam keadaan ridlo kepadaNYA dan DIA pun ridlo atas mereka.

Di sisi lain, tujuan besar hampir selalu identik dengan pengorbanan besar. Pengorbanan besar ini meliputi materi, waktu, pikiran, emosi, kesabaran dan bahkan keimanan. Pengorbanan-pengorbanan tersebut harus ditanggung oleh semua pihak terkait, seperti orang tua, anak-anak, keluarga besar, masyarakat dan pihak lain. Hanya saja, yang paling dominant adalah orang tua dan anak-anak sendiri.

Gede Prama pernah bertutur dengan apik tentang peran penting sebuah kegagalan, kekalahan, kemiskinan, keberkekurangan, tentang kesederhanaan termasuk hikmah datangnya kematian. Beliau sampaikan, lewat pintu-pintu inilah justru kita diajak masuk gerbangnya keindahan, kebahagiaan, kebaikan dan kesempurnaan kehidupan. Beliau juga menambahkan, pintu-pintu kemenangan, keberlebihan atau kekayaan seringkali sangat tidak mampu untuk tugas yang satu ini.

Kembali kepada kisah Sang Begawan Wisrawa (BW), realitasnya dia telah salah mengaktualisasikan rasa sayang atas anaknya, Prabu Danapati (PD). BW terjebak dalam keputusan sesaat, pragmatis, instant (kini-dunia-lahir) dan sangat jauh dari dimensi-dimensi esok-akhirat-lahir. Andaipun BW berhasil, memutuskan ‘menolong’ sang anak dengan cara instant adalah keputusan salah besar. Tindakannya, bukanlah aktualisasi sayang anak, tapi lebih tepat disebut sebagai penjerumusan.

Di mana detil upaya penjerumusan anak yang dilakukan Begawan Wisrawa?

Pertama, BW gagal menanamkan nilai-nilai penting terkait dengan orientasi kehidupan. BW gagal menanamkan Manajemen Prioritas, bahwa ada tingkatan-tingkatan urgensi dalam setiap aspek hidup ini. Mustinya, bagi PD seorang Dewi Sukesi (DS) adalah bukanlah segalanya. Kalaupun mau dijadikan sebagai sebuah goal, maka tetap dalam koridor proses yang bermartabat dan tidak menghalalkan segala cara.

Kedua, BW melakukan penyangkalan atas keyakinan dirinya. Seorang BW pastilah mengetahui, bahwasannya keberadaan dirinya sebagai joki buat anaknya adalah kesalahan. BW pastilah mengerti sekali, bahwa PD mustinya berjuang dulu, entah dengan belajar kepada bapaknya atau merubah sasaran targetnya. Yang akhirnya terjadi, BW bahkan gagal juga mempertahankan integritas atas dirinya.

Ketiga, BW tidak mau melihat anaknya ‘sengsara’. Keteguhan integritas BW luntur, lantaran keengganan melihat anaknya untuk kecewa, ditolak, gagal, bekerja keras atau sakit hati. Mustinya, semuanya itu disikapi sebagai bagian dari pengorbanan dari sang anak.

Keempat, BW tidak mampu melakukan tindakan penyelamatan terakhir. Mustinya, BW berusaha ‘mensadarkan’ PD atas pilihannya kepada DS. Andai saja, BW mungkin merasa telah gagal atas proses pendidikan anaknya PD, tetap saja tidak boleh membalasnya dengan memberi ‘hadiah buruk’. Sungguh banyak hal demikian dilakukan oleh para orang tua hingga kini. Bentuknya bisa bermacam-macam, antara lain pemanjaan materi, cenderung permissive, menghilangkan pembebanan tanggung jawab atau bahkan bersedian menjadikan dirinya sebagai ‘babu’ atau budak bagi anak-anaknya.

Anak-anak kita memang terlahir sebagai darah daging kita. Namun, mereka adalah mereka. Khalil Gibran menyitir, bahwa jiwa seorang anak adalah merdeka. Mereka terlahirkan dengan draft tujuanNYA yang tersendiri. Para orang tua hanyalah terwajibkan sebagai pihak yang paling berwajib atas pembimbingan para anak-anaknya menemukan dirinya itu. Orang tua adalah sebagai special coach, main facilitator atau sebagai mentor utama.

Penjerumusan anak secara terselubung, tidak saja merugikan sang anak tapi juga orang tua. Anak semakin tidak mensadari jalan salahnya. Orang tua bahkan bisa kehilangan martabat mulianya. Namanya juga penjerumusan, memang tidak ada pihak yang diuntungkan, kecuali makhluk laknatullah para syetan durjana itu. Naudzubillahi min dzaalika,…. ##


Selengkapnya......!

Sayang Anak Versi Begawan Wisrawa (1)

Sepenggal episode dari cerita pewayangan Ramayana mengisahkan tentang jatuhnya Sang Begawan Wisrawa, Raja Negeri Lokapala yang bijak, bermartabat, adil dan mampu mensejahterakan rakyatnya. Hingga dirinya melengserkan diri dan lalu digantikan oleh Sang Putra Mahkota, Prabu Danapati, nyaris tidak ada cacat yang berarti. Semua yang berkaitan dengan dirinya, maka hampir semuanya adalah kumpulan cerita indah kesuksesan seorang pemimpin, termasuk juga dimensi spirituilnya.

Cerita kejatuhan sang Begawan justru berawal dari keinginan Sang Raja Muda yang berkeinginan untuk mempersunting Dewi Sukesi, seorang gadis jelita putri Raja Alengkadirja, Prabu Sumali. Wajar saja dan tidak mustahil, lha wong seorang raja menginginkan seorang putri raja.

Di antara sekian banyak persyaratan yang diminta pihak Alengkadirja, ada satu hal yang belum bisa dipenuhi oleh Raja Prabu Danapati. Permintaan tersebut adalah ‘transfer ilmu’ Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang secara khusus diminta oleh Dewi Sukesi. Ilmu tersebut diyakininya dapat dipakai untuk menaklukkan nafsu angkaramurka para raksasa yang memang menguasai negeri Alengkadirja. Sebagai seorang putri raja, Dewi Sukesi berkeinginan membawa Negeri Alengkadirja lebih hebat di masa depan.

Sayang seribu sayang, Prabu Danapati tidak menguasai ilmu tersebut. Bahkan seantera negeri Lokapala ataupun Alengkadirja pun, hampir tidak ada yang menguasainya. Andaikan ada, Dewi Sukesi sangat berkenan untuk dipersuntingnya, siapapun dia.

Alkisah, si penguasa ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanyalah Begawan Wisrawa. Sang Begawan memang menguasainya, tapi tentu tidak berminat untuk mempersunting Dewi Sukesi. Apalagi, track record dan maqom spirituilnya ketika itu juga cukup tinggi. Bisa dibilang, mustahil kalau Sang Begawan kok masih tertarik pada kenikmatan yang tidak abadi itu.

Kokohnya integritas Sang Begawan, sangat mungkin membangkitkan adrenalin para syetan penggoda. Tentunya, bagi syetan ‘positip’ kondisi seperti ini adalah sebuah tantangan yang menarik untuk coba ditaklukkan. Berputar otak mereka mencari jalan untuk menjatuhnkan Sang Begawan. Terakhir, mereka menemukan jalannya yaitu melalui anak Sang Begawan, Prabu Danapati.

Syetan mencoba mengusik ‘rasa sayang’ Sang Begawan atas kesulitan anaknya. Prabu Danapati belum mampu memenuhi sebuah persyaratan yang tengah dinanti Dewi Sukesi, sementara satu-satunya solusi kini ada di tangan Sang Begawan. Syetan memang terlahir untuk menggoda, maka teruslah mereka menggoda dengan terus menajamkan strategi dan siasatnya. Target mereka, mampu menjebol pertahanan pertama Sang Begawan, sekedar mau menolong sang anak dengan mentransfer ilmunya ke Dewi Sukesi.

Sang Begawan takluk di pertahanan pertama. Demi sang anak, Sang Begawan siap untuk mentransfer ilmunya. Toh sekedar mentransfer, tanpa ada hal-hal lain yang buruk begitu pikirnya. Benar-benar Sang Begawan hanya berpikir pendek, pragmatis, dan instant saja.

Momen penting transfer ‘knowledge’ pun datang. Karena Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah high-tech, highscience maka diperlukan suasana khusus sehingga mudah focus. Transfer knowledge akhirnya disepakati dilakukan di ruang tertutup tanpa kehadiran wayang lain. Praktis hanya Sang Begawan dan Si Cantik Jelita, Dewi Suksesi.

Sementara proses transfer knowledge berlangsung, para professional penggoda – syaetan mulai melancarkan aksi-aksi heboh berikutnya. Mereka mengerubuti sekaligus menghembuskan godaan-godaan maut baik kepada Sang Begawan ataupun Dewi Sukesi. ALkisah, godaan syetan tersebut pun akhirnya berhasil menaklukkan benteng pertahanan terdalam keduanya. Sang Begawan dan Dewi Sukesi terlibat hubungan badan yang haram itu.

Tergelincirnya kedua wayang tersebut, adalah awal sebuah huru-hara besar, yakni Perang Ramayana. Hubungan haram mereka melahirkan bayi wayang berfisik raksasa penuh durjana, yaitu Rahwana atau Dasamuka. Kelak, bersama pengikut setianya Rahwana tersebut berhadapan dengan Prabu Rama beserta pengikutnya. Keduanya mewakili symbol perlawanan antara keburukan dan kebaikan. ##

Selengkapnya......!

Saturday, March 24, 2007

Kluruk Tanpo Melung

Kluruk adalah aktifitas utama khas si ayam jago. Di mana ada ayam jago, hampir selalu akan terdengar kluruk tersebut. Sang jago ini memang sering menggunakan kluruknya untuk banyak keperluan. Klurukan di satu sisi, bisa diartikan sebagai pernyataan narsis ‘It’s Me, I’m The Best’, sebagai tantangan kepada jago lain atau juga sekaligus sebagai ancaman atau warning. Di sisi lain, ada juga klurukan luhur si jago tersebut.

Kluruk adalah Voice of Victory. Kapan sang jago merasakan adanya hal lebih pada dirinya, maka saat itulah dia harus sampaikan hal tersebut kepada khalayak. Klurukan bisa juga bermakna Voice of Care. Dulu, di saat belum ada mesin pembangun tidur, maka kluruk sang jago adalah satu-satunya sinyal tersebut di kala pagi hari segera menjelang. Di kesempatan lain, saat sang jago menemukan banyak makanan, maka terkadang dia akan kluruk disertai suara panggilan lain untuk memberitahukan hal tersebut.

Kluruk sebagai Voice of Victory nampaknya lebih dominan. Faktor kemenangan sebagai penyebab kluruk sang jago bisa bersifat langsung ataupun tidak langsung. Di setiap adu ayam jago, ketika si pemenang berhasil mengalahkan lawannya, maka dia pun berkluruklah. Sementara bagi si kalah, jangankan kluruk, tubuhnya saja seolah mingkup mengecil dan biasanya segera berlari kencang menghindar dari lawan dan khalayak.

Dalam kemenangan tak langsungnya, bisa kita jumpai saat ada seekor ayam jago yang merasa unggul atas jago lainnya di depan ayam betina yang sedang diperebutkan. Terkadang seperti tanpa pertimbangan bahwa keunggulan tersebut signifikan atau tidak. Olehnya, tidak mustahil, kita bisa menemukan si jago dewasa kluruk bangga hanya karena keunggulan atas jago kecil atau jago ABG. Tapi begitulah binatang, ….

Kalau kluruk sang jago adalah begitu adanya. Banyak variasi nada dan lagu atas klurukan tersebut bergantung kepada jenis atau ras ayam jagonya. Namun, tahukah kita bahwasannya para manusia pun juga melakukannya?

Lain sang jago lain pula kita, sang insan. Kita memang ditakdirkan sebagai makhluk termulia, walaupun sering tidak mampu menampakkan sisi-sisi kemuliaan tersebut. Manusia sebagai makhluk termulia adalah baru sekedar potensi yang memang telah dilimpahkanNYA. Namun, namanya juga potensi, tanpa aksi yang tepat potensi tersebut tak akan pernah mewujud. Bisa jadi, jika salah aksi yang mewujud adalah potensi sebaliknya.

Klurukan manusia memiliki bentuk yang lebih beragam. Seperti kluruk sang jago, klurukan manusia pun beragam fungsi dan tujuan, bahkan lebih banyak. Sebagai Voice of Victory, bentuknya bahkan bisa fisik ataupun non fisik. Kita mengenal symbol kesuksesan yang hampir tak terhitung banyaknya. Dari yang bersifat fisik kita mengenal diantaranya rumah, kendaraan, sandang, atau aksesoris hidup. Sementara yang non fisik, kita juga mengetahuinya, antara lain gelar, sebutan, atau jabatan.

Kalau kluruk sang jago lebih dominan sebagai Voice of Victory, sepertinya juga sama hal tersebut untuk manusia. Voice of Care, meski tidak ditinggalkan namun sering kalah massive tinimbang upaya pamernya. Memang banyak orang yang peduli, tapi jauh lebih banyak lagi yang tidak. Tidak sedikit orang yang berjiwa dermawan, pejuang dan penolong, namun seberapa banyak sih dibandingkan dengan yang belum memilikinya?

Di sinilah, sebuah esensi bahwa Kluruk Tidak Perlu Melung. Melung adalah nada yang panjang dan keras. Istilah ini saya ambil dari sebutan kluruk buat ayam jago dari jenis ras ayam pelung. Klurukan ayam tersebut memang sangat panjang dan keras. Kluruk sebagai Voice of Care mestinya tidak klop andai disuarakan dengan cara melung. Yang pas adalah suara pelan, lemah lembut, sopan dan menghindarkan dari pilihan kata yang tidak produktif.

Kluruk Gak Nganggo Melung, bisa juga diartikan sebagai sebuah harapan kita atas diri kita sendiri,…. semoga ke depan kita mampu lebih banyak kluruk yang demikian. Semoga kita lebih mengedepankan kepedulian sekaligus mengeliminasi suara-suara pembagaan diri. Sangat sulit itu sudah pasti. Namun seberapa serius dan seberapa keras kita mencobanya, itulah persembahan terbaik yang mampu kita hadirkan. Alloh pun Maha Mengetahui. ##


Selengkapnya......!

Tuesday, March 20, 2007

Kekhawatiran Berlebih Ke Anak

Memiliki anak di era sekarang, selain sebuah tugas yang maha berat juga terlalu sering menghadirkan kekhawatiran yang teramat sangat. Saat-saat ini, pengaruh negative lingkungan begitu dominan. Hampir-hampir sisi positip entah dari keluarga, sekolah dan lingkungan masjid tidak mampu mengimbanginya lagi. Keadaan ini makin diperpincang dengan hadirnya menu TV, menu radio dan menu media massa yang banyak dieksploitasi oleh komoditi ekonomis.

Aku pernah tersentak kaget, bingung dan sedikit gemes akibat satu pertanyaan ‘nakal’ dari Dykall, anak sulungku yang baru beranjak 9 tahun. Kisahnya begini,…. Di suatu malam saat mengobrol berdua, Dykall menanyakan sesuatu hal. Dia bertanya, “ Ayah, sebelum orang tua memiliki anak apa yang dilakukan?”.

Mak deg rasaning atiku, …… Emosiku pun sedikit tersulut. Terbayang olehku, wah jangan-jangan anakku sudah ‘pintar’ yang terlampau jauh. Pikirku, masuk akal saja kalau hal ini terjadi, mengingat memang sudah sedemikian crowded inputan yang diterima Dykall itu. Sementara saya dan isteri memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mampu tampil sebagai pembimbing yang baik. Waktu terbatas, ilmu dan wawasan juga terbatas, apatah lagi kalau melihat sisi-sisi keteladanan, modal keimanan ataupun ketaqwaan. Paling-paling yang kadang diperbanyak adalah harapan dan do’a, smoga anak-anakku kelak menjadi pribadi yang sholeh dan sholihah.

Sambil mencoba bersabar, meredam rasa kecewa dan marah, saya pun mencoba mencari-cari apa jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan ‘nakal’ tadi. Bayangan saya, saya harus mampu menjelaskan sebuah proses reproduksi manusia dengan mengedepankan moralitas agama. Lama masih belum juga terketemukan. Ternyata, memang tidak mudah untuk menemukan rangkaian kata-kata yang pas untuk konsumsi anak seumur itu.

Mungkin karena lama menunggu, sementara belum juga keluar sebuah jawaban dari saya, Dykall pun mencoba memperjelas maksud pertanyaannya.
Maksudnya, apakah sebelum memiliki anak seseorang haruslah menikah. Dan sebelum menikah, maka seseorang tersebut juga harus bekerja terlebih dahulu. Apakah begitu Yah?” begitu dia menambahkan.

MasyaAlloh, Astaghfirullah, Alhamdulillah,….
Kalau tadi Mak Deg, kini Mak Cesss rasaning atiku. Dykall ternyata menanyakan hal yang sangat bagus. Pertanyaan dua hal terpenting sebagai penyempurna proses pra reproduksi. Bekerja adalah penyiapan nafkah bagi tumbuh kembang anak-anak dan keluarga. Menikah adalah gerbang syar’i yang bisa mengubah sesuatu maksiat menjadi sebuah ibadah.

Astaghfirullah,…. Lho kok yaa saya tidak kepikiran hal yang seperti itu. Awakku kok malah kadung mikir sing ora-ora. Alhamdulillah,…. Ternyata Dykall masih lurus, tapi sayalah yang khawatir berlebihan. Andaikan saja, saya tahu dan mampu berpikir secara proporsional lagi, mestinya Dykall tidak harus menunggu jawaban selama itu, terlebih jawaban tersebut juga tidak kunjung muncul juga hingga ia memperjelasnya.

Terima kasih Dykall, ayah tidak perlu mencari jawaban yang belum ketemu tadi itu. Terima kasih juga, karena pertanyaan penjelasmu juga sangat memudahkan jawaban yang harus ayah sampaikan kepadamu.
Jawaban ayahmu adalah, “Betul, …. Mamas sangat pintar dan kelak jika Mamas besar pun harus demikian. Bekerja dan Menikah. Sudah tentu, semuanya harus dipersiapkan dengan belajar, belajar dan belajar”. [Bpp, 20Maret2007] ##

Selengkapnya......!

Sampah Non Fisik

Sampah, secara harfiah kurang lebih memiliki arti hasil samping sebuah proses produksi yang tidak bermanfaat. Secara kontekstual, sampah berarti sesuatu yang sudah tidak lagi berguna dan oleh karenanya layak untuk dicampakkan atau dibuang.

Di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita hampir selalu dijumpai banyak sampah, di manapun dan kapan pun. Secara fisik, tubuh kita memproduksi sampah dalam ukuran dan macam yang relative banyak. Coba kita hitung. Berapa mLiter keringat, air seni dan ludah yang kita keluarkan dalam sehari. Berapa mGram feses dan daki yang keluar dari tubuh kita per harinya.

Di luar tubuh kita, berapa kGram sampah-sampah yang sudah kita hasilkan, yang terkadang masih tanpa disertai pembuangan yang benar. Di dalam rumah kita, sampah-sampah yang berasal dari limbah masakan, bungkus, imbas kegiatan kreatifitas anak-anak, debu, sisa-sisa makanan, barang-barang rumah tangga yang rusak, kotoran binatang, rumput-rumput tanaman yang kita potong dan lain sebagainya.

Keluar dari rumah kita, entah di jalanan, sekolah-sekolah, kantor-kantor, pusat aktifitas ekonomi, lapangan, pelabuhan, bandara, terminal hingga instansi-instansi yang terkait langsung dengan persampahan, juga memproduksi sampah dalam bilangan yang tidak sedikit. Singkat kata, hampir tidak ada tempat yang tidak bersampah. Semua berpotensi menghasilkan sampah, walaupun terdapat variasi macam dan volumenya.

Ada sampah fisik, ada lagi sampah non fisik. Sampah non fisik, tentu tidak bisa terlihat oleh mata, tapi mudah dikenali. Sebagai contoh, kita mengenal dengan sangat familiar, apa itu sampah masyarakat. Ungkapan ini berkonotasi sangat dekat dengan sebutan bagi siapapun yang dalam hidupnya dominant hanya sebagai beban bagi masyarakat lainnya.

Menengok sampah non fisik yang ada dalam diri kita juga tidak sulit. Sesuai dengan definisinya, sampah tersebut hadir dalam wujud yang sangat banyak. Perilaku, kebiasaan dan karakter yang negative dan cenderung merusak kemuliaan insaniyah, adalah sampah non fisik tersebut. Seperti sampah fisik, sampah non fisik pun menimbulkan bau tak enak, menjadi sarang sumber penyakit, dan secara otomatis akan menurunkan derajat kesehatan. Dalam banyak hal, memang dibutuhkan sensitifitas yang cukup untuk bisa merasakan efek-fek tersebut.

Deepak Chopra, pakar pengobatan quantum dari India, sangat meyakini sekaligus telah banyak membuktikan bahwa pengobatan sakit fisik akan berproses lebih cepat jika disertai dengan terapi non fisik atau kejiwaan. Ajaibnya, tidak sedikit para pasiennya yang telah divonis tidak akan berumur panjang akibat sakit fisiknya, dengan metode pengobatan yang integral ini si pasien malah sembuh secara total.

Gede Prama, pernah menulis dengan sangat indah sebuah ungkapan berkaitan dengan sampah non fisik ini. Beliau bertutur, andai saja tubuh ini bisa membuang beban-beban yang tak perlu, niscaya tubuh ini mampu terbayang melayang layaknya seekor burung. Beban-beban itu adalah prasangka buruk, iri dengki, malas, berpikir hal-hal yang mubazir dan sejenisnya. Kesuksesan kita meninggalkan beban-beban tersebut, akan membawa kita terbang seperti syair lagu Westlife : Flying Without Wings.

Tentunya, dibutuhkan kemampuan pengelolaan sampah yang jitu. Mengelola sampah fisik sering membuat seorang Gubernur Jawa Barat kewalahan gak ketulungan. Nah, tidak beda dengan sampah non fisik yang bercokol di dalam diri kita itu.

Garbage Management, tak akan sempurna tanpa visi, tekad dan kerja keras. Flying Without Wings bukanlah hadiah hanya karena kita berulang tahun. Enyahnya sampah non fisik ini adalah hasil kerja ikhlas, kerja pintar dan kerja keras. Tanpa ini semua, yang kelak terjadi adalah diri kita bak lautan sampah. Diri yang dipenuhi sampah fisik dan sampah non fisik. Kita semua tidak menginginkan demikian tentunya. [Bpp, 20 Maret 2007] ##

Selengkapnya......!