Demi HP, Gaji 2 Bulan Pertama Diikhlaskan
Mbak Nia, PRT di rumah saya 2 minggu lalu ijin berlibur bulanannya. Biasanya cukup 2 hari, kali itu minta tambahan 1 hari. Pasalnya, dia mau membeli HP. Dia telah mengumpulkan gaji selama 2 bulan pertama, dan menurut perhitungannya sudah mencukupi untuk sebuah HP. Dia memang mau membeli HP dengan harga berkisar 600 ribu rupiah. Dengan gaji 500 ribu perbulan, gaji 2 bulan telah lebih dari cukup.
Ketika Mbak Nia kembali dari liburnya, dia pun memperlihatkan HP barunya. Merek NOKIA, harga 600 ribu rupiah sudah termasuk kartu perdana AS. Kini, mbak Nia memiliki mainan baru, sebuah alat komunikasi HP yang juga dilengkapi dengan fasilitas radio. Jadi disamping untuk bertelepon ria, lebih sering bahkan difungsikan sebagai pesawat radio. Lagu-lagu kesukaan dari radio favoritnya pun hamper jarang terlewatkan.
Beberapa hal lalu terlintas di benakku. Ternyata, kehidupan di jaman sekarang, variansi kebutuhan menjadi sangatlah banyak. Kalau dulu, saya mengenal kebutuhan pokok hanyalah mencakup pangan, sandang dan papan. Ketiga kebutuhan tersebut adalah kebutuhan primer, di mana tanpa pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut niscaya kehidupan yang bersangkutan akan kacau.
Kalau dulu, kebutuhan pangan dianggap belum terpenuhi manakala tidak ada makanan sesuatupun yang bisa dimakan. Andai saja masih ada nasi dan garam, bahkan masih dianggap lumayan. Anggaplah bahwa kebutuhan pangannya terpenuhi 70%. Saya sendiri pernah mengalami masa-masa sulit ketika masih dibangku SD, sekitar awal tahun 80-an. Untuk menghemat nasi, secara periodic biyung saya menjadualkan sarapan dengan menu non nasi. Antara sego jagung, gethuk gedang dan inthil dipergilirkan terutama di saat musim paceklik tiba.
Kebutuhan sandang, tak kalah serunya dengan pangan. Saya masih ingat, ketika kecil dulu, saat tiba hari lebaran adalah saat yang teramat istimewa. Ketika itulah, satu-satunya kesempatan buat kami memperoleh baju baru. Tapi jangan kira, bahwa baju baru tersebut diperuntukan buat berlebaran. Bapak saya membelikan kami baju seragam sekolah. Atas baju putih, dan bawah disesuaikan dengan seragam masing-masing yang ketika itu belum diatur oleh pemerintah.
Kondisi papan sebagai tempat berteduh, betul-betul hanya memenuhi fungsi paling dasar. Rumah ortu kami, adalah rumah khas desa. Berdinding papan dan anyaman bamboo. Atapnya sudah lumayan, ada genteng soka, seng dan anyaman daun rumbia saling melengkapi. Lantai kami adalah tanah yang dipadatkan. Cukup sering ortu kami menyiramnya, terutama jika sudah muncul debu-debu berterbangan.
Ketika itu, ortu kami dengan 8 anak, memang mebutuhkan biaya yang tidak kecil untuk biaya sekolah. Terlebih lagi, karena di desa kami bahkan hingga kota kecamatan belum ada sekolah SMP apalagi SMA. Konsekuensinya, kami semua harus kos. Penghasilan ortu kami sebagai petani dan peternak, alhamdulillah mencukupi. Meski banyak hal harus dikorbankan, seperti halnya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer di atas.
Kembali ke PRT di rumah saya. Memprioritaskan HP di atas kebutuhan lainnya, tidak juga bisa disalahkan. Inilah jamannya. Kebutuhan primer menurut persepsi kebanyakan orang sekarang telah sangat berbeda dengan persepsi jamannya ortu kami. Dalam hal pangan, sandang dan papan, criteria minimal yang dianggap layak juga sudah sedemikian jauh. Selera, favoritisme, gaya hidup, model dan kualitas sudah menjadi pegangan umum. Tak mengherankan, jika tidak sedikit yang untuk memenuhi petimbangan-pertimbangan tersebut, akhirnya harus terjerat hutang. Inipun juga bagian dari jamannya.
Sungguh berat menjalani kehidupan jaman sekarang. Tuntutan, tantangan dan godaan semakin banyak. Banyak uang saja jelas tidak cukup, apalagi sedikit. Harus juga kuat mental dan kuat spiritual. Dua hal terakhir bisa jadi lebih menyelesaikan, ketimbang hanya berbekal materi yang melimpah. Sayangnya, kedua hal tersebut, kini pun menjadi sesuatu yang semakin sulit digapai.
Ya Alloh, ampuni kami atas segala kekurangan kami.
Kiranya Engkau berkenan menguatkan kami, sehingga perjalanan di sisa-sisa umur kami dapat kami lampaui sesuai garis-garis syariatMu.
Amien, amien Ya Robbal ‘Alamien.
Selengkapnya......!


